Antara Pesan, Audiens dan Viral

4 bulan lalu 40

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALKISAH, pada satu diskusi paralel dalam satu konferensi ilmiah, seorang pembicara tampil dengan bangga. Ada puluhan peserta yang hadir di ruangan sebesar kelas itu. Namun, satu per satu mereka keluar, hingga tersisa satu orang saja. Si pembicara mulai ciut sekaligus penasaran dengan satu orang yang bertahan itu. Dia pun bertanya, “Mengapa Anda bertahan? Apakah Anda tertarik dengan presentasi saya?” Orang itu tersenyum dan berkata, “Mohon maaf. Saya bukannya tertarik dengan presentasi Anda. Saya bertahan di sini karena saya adalah pembicara berikutnya!”

Lelucon di atas pernah saya dengar dari seorang tokoh yang berbicara di depan para ulama pengurus MUI se-Kalimantan. Waktu itu, seperti banyak orang lainnya, saya tertawa lepas. Sebuah lelucon yang sangat pas disampaikan di hadapan orang-orang yang seringkali menjadi pembicara ketimbang menjadi pendengar. Saya sendiri, yang bekerja sebagai dosen dan seringkali diundang menjadi pembicara di berbagai acara, benar-benar merasa tersindir. Boleh jadi selama ini, saya merasa diri hebat karena diundang, dihormati dan bahkan dibayar (kadangkala juga gratis) untuk menjadi pembicara. Saya lupa bahwa tanpa peserta, audiens atau pendengar, saya tak ada apa-apanya!

Lelucon tersebut juga dapat menyindir budaya seremoni yang sangat disukai di negeri ini, baik di pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, bahkan organisasi kemahasiswaan. Tak jarang, dalam acara seremoni itu, kita menyaksikan sejenis lomba pidato dari satu pembicara ke pembicara lainnya. Kadangkala para pembicara itu menyuguhkan retorika yang berapi-api, meskipun miskin isi. Kadangkala pula, mereka mengajak kita meneriakkan slogan tertentu. Tak jarang pula mereka bertanding pantun. Namun, pernahkah terpikir oleh para pembicara itu, apakah para hadirin benar-benar senang ataukah diam-diam memendam bosan? Adakah manfaat yang mereka dapatkan?

Memang, tantangan berat yang dihadapi seorang pembicara adalah, seberapa mampu dia merebut perhatian hadirin. Jika apa yang disampaikannya bermanfaat dan cara menyampaikannya menarik, maka hadirin akan bertahan dan terpukau. Sebaliknya, jika yang disampaikannya adalah sesuatu yang umum diketahui (common sense) atau retorika kosong belaka, maka hadirin akan mengalihkan perhatiannya atau bahkan meninggalkannya. Di sini yang paling menentukan adalah hadirin, bukan pembicara. Pembicara takkan ada artinya tanpa hadirin. Pembicara, jika dia berkuasa, memang bisa memaksa orang untuk hadir. Namun, rasa suka atau tidak suka hadirin, tetap tak bisa dipaksakan.

Karena itu, menjadi pembicara publik tidaklah mudah. Dia harus mengetahui wawasan budaya dan selera hadirin di satu sisi, dan menyampaikan pesan bermanfaat sesuai kapasitas hadirin di sisi lain. Di sini akan ada godaan bagi kedua belah pihak, untuk menyesuaikan selera yang dapat berakibat menurunkan bobot dan manfaat pesan yang disampaikan. Misalnya, hadirin menyukai pembicara yang suka melucu, karena itu si pembicara berusaha melucu hingga melampaui kewajaran dan dia pun berubah menjadi pelawak! Hal ini dapat merugikan kedua belah pihak, apalagi jika si pembicara adalah seorang tokoh agama yang menyampaikan pesan-pesan sakral agama.

Persoalan bertambah rumit ketika kita saat ini hidup di era media sosial. Pesan apapun yang dikirim melalui media sosial akan sangat tergantung pada selera warganet. Warganet itu ibarat pasar antah berantah yang tidak berada di manapun sekaligus di mana-mana. Kita tidak bisa memastikan apa saja yang bakal viral atau tidak. Memang, hal-hal aneh, unik bahkan tragis, umumnya bisa membuat orang tertarik. Namun, kita tetap saja tidak pernah tahu apa alasan sebenarnya di balik kesukaan warganet. Mengapa seseorang bisa memiliki pengikut hingga jutaan? Apa standar atau kriteria yang dipakai warganet untuk menyukai atau tidak suatu pesan? Semua serba tak jelas.

Dalam dunia yang seperti ini, saya kira kita sebaiknya kembali ke prinsip asal saja ketimbang hanyut dalam arus tuntutan selera pasar. Akan sangat mulia jika kita dapat menciptakan pasar sendiri, yang dapat dengan senang hati menerima pesan-pesan berbobot dan bermanfaat. Pada akhirnya, suatu pesan (lisan, tulisan, foto atau video) yang dibuat untuk memberikan manfaat kepada manusia akan tergantung pada si penerima pesan itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, pesan-pesan yang disampaikannya adalah laksana percikan api. Ia akan lenyap kalau jatuh di atas kain yang basah. Namun akan menyala jika jatuh di atas kapas yang kering.

Alhasil, merebut perhatian memang tak mudah, lebih-lebih di era tsunami informasi ini, ketika orang sangat sulit berkonsentrasi dalam waktu yang lama dan suka melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan (multitasking). Namun, daripada berpayah-payah merebut perhatian, lebih baik kita mengerahkan energi pada bobot dan manfaat pesan yang kita sampaikan dan kita simak. Karena yang baik dan benar akan tetap baik dan benar, meskipun dalam waktu tertentu hanya sedikit orang yang memerhatikannya. (*)

Lanjut Baca