Beranda Nasional BKIPM Aceh imbau warga serahkan koleksi ikan berbahaya termasuk Arapaima

BKIPM Aceh imbau warga serahkan koleksi ikan berbahaya termasuk Arapaima

7
0

Banjarmasinnews.com – Agen Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Aceh membuka Pos Perikanan Berbahaya atau Invasiv di BKIPM Kantor Aceh, Jalan Blok Bintang, Aceh Besar. Hal ini menyusul munculnya fenomena ikan Gigas Arapaima di Indonesia

"Ini sesuai dengan instruksi Kepala BKIPM melalui surat Kepala BKIPM nomor 636 / BKIPM / VI / 2018 tanggal 29 Juni 2018 Berkaitan dengan Post of Dangerous Fishing atau Invasiv. Respon cepat BKIPM setelah pulau Jawa dilemparkan dengan informasi dari masyarakat, tempat pelepasan ikan Arapaima Gigas di perairan Sungai Brantas, "kata Kepala Pengendalian dan Pengendalian Informasi (Wasdalin) BKIPM Aceh Hudaibiya Al Faruqie dalam pernyataan tertulis menerima merdeka.com, Minggu (1/7).

Menurutnya, Kepala BKIPM Rina menginstruksikan semua UPT BKIPM dan wilayah kerjanya di seluruh Indonesia untuk membuka pos pengiriman ikan berbahaya dari masyarakat. Pos ini dibuka dari 1 Juli hingga 31 Juli 2018.

Dia memastikan bahwa orang-orang dengan sukarela menyerahkan koleksi ikan berbahaya ini, BKIPM menjamin bahwa tidak akan ada tindakan yang diambil. Namun, jika sampai batas waktu yang ditentukan oleh masyarakat yang mengabaikan banding ini, petugas BKIPM dan Petugas PSDKP dan BKSDA Aceh akan melakukan operasi gabungan untuk menyerbu ke tempat-tempat yang diduga memelihara ikan berbahaya ini

"Jika ditemukan maka pemilik akan menjadi diatur sesuai dengan Undang-undang nomor 31 tahun 2004 yang telah diubah menjadi Undang-undang nomor 45 tahun 2009 Tentang Perikanan Pasal 12 ayat 2 Setiap orang dilarang membudidayakan ikan yang berbahaya bagi sumber daya ikan, sumber daya ikan dan lingkungan kesehatan di bidang pengelolaan perikanan RI, "

Sedangkan ancaman pidana tercantum dalam Pasal 86 ayat 2 yang merupakan penjara maksimum 6 tahun dan denda Rp 1,5 miliar.

Dalam pembukaan posko ini BKIPM Aceh melibatkan pemangku kepentingan terkait, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, Basis Pengawasan Sumber Daya Laut dan Perikanan Aceh dan BKSDA Aceh.

Larangan pem pemangan spesies ikan berbahaya sudah ada sejak tahun 1982 melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 179 tahun 1982, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 17 tahun 2009 dan telah direvisi dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 41 tahun 2014.

Jenis ikan Arapaima Gigas diduga dilepas di Sungai Brantas kemungkinan akan masuk ke Indonesia sebelum tahun 2014, karena jenis Arapaima Gigas baru masuk ke dalam jenis ikan berbahaya yang dilarang dari masuk ke Indonesia sejak isu Permen KP nomor 41 tahun 2014.

Dalam perdagangan internasional saat ini Arapaima Gigas masuk ke dalam Apendiks II berarti bahwa ia dapat diperdagangkan dengan kuota yang ditetapkan oleh instansi terkait, dan di Indonesia badan tersebut adalah otoritas dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK).

Ada 151 spesies ikan berbahaya di Kandidat KP no. 41 tahun 2018, oleh karena itu BKIPM Aceh akan bekerja sama dengan DKP Aceh, PSDKP Aceh dan BKSDA Aceh untuk melakukan operasi bersama ke seluruh pelosok Aceh, jika sampai dengan 31 Juli 2018 tidak ada masyarakat yang mau secara sukarela menyerahkan ikan berbahaya demi pengawetan daya biologis perikanan Aceh. (F, b, e, v, n, t, s) if (f.fbq) kembali; n = f.fbq = function () n.callMethod?
n.callMethod.apply (n, argumen): n.queue.push (argumen); if (! f._fbq) f._fbq = n;
n.push = n; n.loaded =! 0; n.version = & # 39; 2.0 & # 39 ;; n.queue = []; t = b.createElement (e); t.async =! 0;
t.src = v; s = b.getElementsByTagName (e) [0]; s.parentNode.insertBefore (t, s) (window,
dokumen, & # 39; skrip & # 39 ;, & # 39; https: //connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
fbq (& # 39; init & # 39 ;, & # 39; 833492313416407 & # 39;);
fbq (& # 39; track & # 39 ;, & # 39; PageView & # 39;);