Beranda Nasional Dedi Mulyadi: Pilgub Jabar akhiri tren politik citra jadi politik gerilya

Dedi Mulyadi: Pilgub Jabar akhiri tren politik citra jadi politik gerilya

8
0

Banjarmasinnews.com – Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi berpendapat bahwa Gubernur Jawa Barat 2018 telah mengakhiri tren kesuksesan politik citra. Istilah terakhir mendominasi kontestasi politik selama dekade terakhir di Indonesia.

Menurutnya, politik citra kini telah berubah menjadi politik gerilya teritorial. Artinya, upaya politik untuk menangkap berbagai segmen pemilih melalui jaringan tanah yang berakar dalam

"Dalam Pilgub Jabar ini, banyak survei yang terlewatkan, banyak analisis ahli yang terlewatkan, yang berarti bahwa ada perubahan fenomena, politik citra berubah menjadi politik gerilya teritorial. Ini harus diwaspadai Partai Golkar dalam pemilihan presiden 2019, termasuk pengusung partai lainnya Pak Jokowi, "kata Dedi ketika dihubungi pada Sabtu (30/6).

Posisi Jawa Barat menurut kader Nahdlatul Ulama, sangat strategis di panggung politik nasional. Ada 31 juta pemilih terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Jumlah pemilih sebesar ini tentu saja menjadi target calon presiden pada 2019. Semua calon presiden yakin untuk menjadikan Jawa Barat sebagai basis pemilih mereka untuk elektoral insentif.

Dedi Mulyadi sendiri bertempur di Pilgub Jabar dengan mitranya Deddy Mizwar. Pasangan nomor urut 4 ini hanya mampu menduduki posisi ketiga dengan pencapaian 25,8 persen suara dari survei lembaga penghitungan cepat.

Hasilnya jauh dari prediksi berbagai lembaga survei dalam rilis karena pasangan yang tumpang tindih Sudrajat-Syaikhu di 28,37 persen. Sementara pasangan Hasanah berada pada 12,66 persen. Pasangan Rindu keluar sebagai pemenang dengan persentase 33,12 persen suara.

Dalam survei pra-pemungutan suara, pasangan ini diprediksi bersaing dengan mitra Duo DM. Namun, prediksi ini jauh dari memanggang. Pasangan Sudrajat-Syaikhu mengambil alih suara Duo DM.

"Anda bayangkan, permintaan maaf, elektabilitas pada awalnya rendah, lalu hingga 10 persen. Kemudian, lompat hingga 15 persen menjadi 28 persen pada akhir pemilu," kata Dedi. [19659003] Ia memberikan interpretasi terhadap fenomena tersebut. Menurutnya, ada gelombang transisi pilihan politik seminggu menjelang pemilihan di bawah Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat

"Artinya, ada gerakan besar dengan strategi yang kuat, menargetkan wilayah dengan cara dari gerilya sehingga, akibatnya mengubah konstelasi Pilgub Jabar, 19659003] Upacara Duo DM Soundtrack

Gelombang dukungan transisional yang mengakibatkan ceruk Duo DM terkikis hingga hari pemilihan. Karakteristik pemilih Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi berbeda.

Dijelaskan oleh Dedi, pemenang dari banyak cangkir gambar memiliki basis suara yang banyak bersinggungan dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera Sejahtera) .Karena, Deddy Mizwar didukung oleh partai pemilih berbasis Islam saat dipasangkan dengan Ahmad Heryawan di Pilgub 2013.

Permulaan masalah Pilgub 2018 bergulir, PKS pernah menyatakan mendukung Deddy Mizwar bersama Ahmad Syaikhu. Sementara Dedi Mulyadi, memiliki basis suara tradisional yang kuat. rs. Para pemilih telah terkena sosialisasi kemajuan Purwakarta.

Ini dibuktikan dengan dominasi Dedi Mulyadi di Purwakarta, Subang dan Karawang. Selain itu, pinggiran Kabupaten dan Kota Bekasi menjadi pangkalan para lelaki yang melekat pada uk Sunda makutawangsa

"Ada perbedaan antara tiang pemilih antara saya dan Bapak Demiz.Multi Demiz banyak tunas dengan PKS.Also terkait dengan pengusung partai Pak Demiz, mungkin tidak sejalan dengan konstelasi pemilihan presiden 2019. Jadi, basis pemilu ini mengalihkan dukungan, "katanya.

Pengalihan dukungan, menurut Dedi, berlangsung di Public Debate II Pilgub Jawa Barat di Depok, Jawa Barat. Saat itu, pasangan Sudrajat-Syaikhu menunjukkan T-shirt bertuliskan # 2019GantiPresiden.

Kondisi ini semakin diperparah oleh manuver Ketua Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam konferensi pers di Kota Bogor, SBY menyebutkan bahwa Pj Gubernur Jawa Barat M Iriawan menggeledah rumah dinas wakil gubernur

"Dalam posisi ini, kami paling dirugikan, suara kami berkurang 15%, " dia berkata.

Pada pemilihan presiden 2019, Partai Golkar tempat Dedi Mulyadi bekerja, membawa Joko Widodo. Perbedaan dalam ceruk suara yang menghasilkan basis pemilihan pasangan Duo DM tidak solid.

Meski begitu, Dedi mengaku bahagia. "Saya senang bahwa basis saya tidak hancur," katanya, menambahkan, "Jika sebelum Pemilihan Jawa Barat saya memilih 15 persen, sekarang 25 persen," katanya. [If (f.fbq) return; n = f.fbq = function () n.callMethod?) (F, b, e, v, n, t, s)
  n.callMethod.apply (n, arguments): n.queue.push (arguments); if (! f._fbq) f._fbq = n;
  n.push = n; n.loaded =! 0; n.version = '2.0'; n.queue = []; t = b.createElement (e); t.async =! 0;
t.src = v; s = b.getElementsByTagName (e) [0]; s.parentNode.insertBefore (t, s)} (window,
dokumen, & # 39; skrip & # 39 ;, & # 39; https: //connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
fbq (& # 39; init & # 39 ;, & # 39; 833492313416407 & # 39;);
fbq (& # 39; track & # 39 ;, & # 39; PageView & # 39;);