UNGARAN, KOMPAS.com – Wajah Ramelan terlihat letih. Dengan bertelanjang dada, dia baru saja mengejar ayam di kebun depan rumahnya.

Sementara, anaknya, Dimas Andre Kurniawan (12) tertidur lelap di depan televisi.

Dimas, bocah berbobot 10 kilogram tersebut, seminggu lalu sakit hingga memerlukan perawatan. Dia sempat gagal napas hingga dibawa ke rumah sakit.

“Namun setelah sampai rumah sakit, Dimas kondisinya membaik dan langsung dibawa pulang,” jelasnya sembari menyeka peluh saat ditemui di rumahnya, RT 7/RW 6 Dusun Berokan, Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang.

Baca juga: Kisah Anak Kuli Bangunan Lulusan Terbaik Bintara Polda Jatim, Sepeda Ontel Ayah Jadi Motivasi

Ramelan mengatakan, sejak ada pemberitaan di Kompas.com, bantuan untuk Dimas terus berdatang.

“Saya juga tidak lagi narik ojek, tapi fokus menjaga warung sekalian mengawasi Dimas,” ujarnya.

Warung usaha Ramelan menjual gas, rokok, dan aneka kebutuhan sehari-hari.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada pembaca Kompas.com yang menyalurkan sumbangan melalui Kitabisa.com.

Uang sumbangan yang terkumpul sebesar Rp 9.121.800 tersebut akan digunakan untuk biaya sekolah Melati Suryaningrum, kakak Dimas yang saat ini kelas III SMK di Bawen, perawatan Dimas, serta modal usaha agar bisa berkelanjutan.

“Dimas sedang rewel, beberapa hari ini susah makan. Hanya sedikit yang ditelan, tidak seperti biasanya,” kata Ramelan.

Baca juga: Cerita di Balik Perjuangan Ratusan Murid SD di Kupang Panjat Tembok 4 Meter agar Sampai ke Sekolah

Seperti diberitakan, Dimas terlahir prematur saat usia kandungan istrinya lima bulan. Saat lahir, Dimas, dinyatakan ada gangguan di saraf punggung dan kepala. Selain itu tenggorokannya pun sempit dan menganggu pita suaranya.

Ramelan yang bekerja sebagai tenaga serabutan telah mengupayakan berbagai cara demi kesembuhan Dimas. Mulai dari cara medis hingga tradisional.

“Dia menjalani terapi selama empat tahun. Hasilnya, kepala Dimas bisa digerakkan. Tapi terapi tidak saya lanjutkan karena tidak ada biaya,” jelasnya.

Ramelan menuturkan, Dimas biasa tidur saat adzan Subuh dan bangun sekitar pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB.

Saat malam, dia biasa mencuri-curi waktu untuk ngojek.

“Ngojek itu dapatnya hanya sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu, karena saya tidak bisa full kerja. Tapi yang penting bisa buat saku Melati sekolah,” terangnya, saat itu.

Sementara untuk makan sehari-hari, dia tidak terlalu memikirkan.

“Kalau makan saya dan kakaknya, gimana caranya pasti ada. Tapi kalau Dimas harus bubur sachet, dia sekali makan dua bungkus. Sementara minumnya maunya yang susu kental, karena kalau bubuk tidak mau,” kata Ramelan.

Sumber

Komentar Anda