Mengapa Gempa Bumi Sulit di Prediksi? Ini Penjelasannya

11

Banjarmasin News – Gempa bumi yang terjadi di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat Minggu kemarin masih menyisakan duka, sebelumnya Minggu (29/07/2018) Lombok juga telah diguncang gempa dengan kekuatan 6,4 SR.

Lalu apa yang melandasi sehingga kita kesulitan untuk mendeteksi secara dini akan terjadinya gempa yang lebih hebat, meskipun sudah dikerahkan peralatan canggih dengan sederet penelitian terkini dari para ilmuwan dibidangnya.

Dikutiip dari laman Suara.com Andrew Robinson mengungkapkan dalam buku Earth-Shattering Events, bahwa, “Hampir setengah dari kota-kota besar dunia, saat ini berada di daerah berisiko gempa bumi.”

Menurut Andrew Robinson, meski ilmu pengetahuan terus berkembang, melakukan prediksi atas kejadian gempa tetap termasuk kategori sulit, akan tetapi satu hal sudah jelas, yaitu manusia terus membangun kota-kota di garis patahan utama. Yaitu area terjadinya tumbukan antar lempeng benua dengan benua, atau benua dengan samudera.

Berita Terkait

“Seluruh bidang prediksi gempa, terlalu luas untuk dijelajahi,” jelasnya. “Dugaan di mana dan kapan terjadinya gempa besar selanjutnya menjadi pekerjaan rumah para pakar.”

Bahakan seekor kelinci bisa lebih piawai untuk soal ini, dengan mengandalkan naluri sebagai satwa, ia bisa menangkap sinyal-sinyal tertentu dari Bumi.  Hal ini bukan tanpa alasan, pernyataan ini pernah diungkapkan oleh Plutarch, seorang sejarawan Yunani yang memiliki firasat bakal terjadi gempa  di Sparta pada 464 Sebelum Masehi.

Terjadinya kerusakan bangunan dan bahkan ambruk akibat gempa bumi yang terjadi untuk kesekian kali, hal ini dikarenakan keengganan manusia itu sendiri untuk belajar dari masa lalu.

“Adanya garis kesalahan, atau area patahan yang sudah diketahui secara geologi, tidak dipelajari sebelum membangun kembali sebuah kawasan dari kondisi pascagempa,” lanjutn Andrew Robinson.

“Kecenderunganya adalah didirikan lagi, di tempat sama, tetapi tidak lebih kuat pondasinyna, sehingga saat terjadi gempa di waktu-waktu mendatang, terjadi kondisi berulang. Bahkan mungkin tidak kurang parah.”